nice article from ely
Oleh : Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhani
Seorang temen dengan berkaca-kaca bercerita kepada saya bahwa ia ingin segera menikah. Sudah 3 kali propsal ta’arufnya di tolak akhwat. Masalah itu begitu berat membebani pikirannya bahkan mempengaruhi ibadahnya. Ia menjadi tidak tenang, shalat tidak khusyu’, juga sulit tidur. Kondisi fisiknya tentu jadi ikut terpengaruh.
Saya sedih mendengar curhatnya. Saya juga mencoba memahami perasaannya. Tapi wajarkah jika hal ini mengacaukan segalanya?
Ketika kuliah saya berdoa kepada ALLAH agar bisa menikah, namun keinginan menikah itu sudah muncul sejak usia saya 21 tahun ketika masa-masa ghirah dakwah begitu dahsaytnya melihat ustadz-uatdaz muda menggnadeng istri dan menggoedong anak yang subhannallah sungguh indah di pandang mata. Tapi di usai 21 tahun itu ibu saya tidak mengizinkan menikah karena saya masih kuliah . Alhamdulillah Allah swt memberikan jodoh saat usia saya 25 tahun sebagaimana doa saya dulu. Walau keinginan menikah pada usia 21 tahun itu di tahan selama 4 tahun sampai usia saya 25 tahun, masa penantian itu nyatanya tidaklah dapat dikatakan sebentar, sebagaimana pepatah melayu menyebutnya “ Tunggu-Tunggu Sungai Tidak Berhulu”, begitu perihnya penantian itu tetapi untuk menguji kesabaran jika tanpa ketegaran, rasa percaya diri, bebas dari prasangka dan perasaan tertekan. Satu hal yang membuat saya selalu merasa bersyukur saat itu adalah, Allah menolong saya tetap memiliki obsesi dan berkarya.
Seiring waktu, saya makin meyakini Allah bisa menjodohkan hamba-Nya
kapan saja. Tapi, seringkali Dia mempunyai rencana lain yang mesti kita
ambil hikmahnya sebanyak-banyaknya.seperti saya mempunyai keinginan menikah dengan gadis ( Akhwat tentunya ) di tanah kelahiran saya, namun ternyata rencana ALLAH berbeda saya di jodohkan dengan gadis sunda bandung dan inilah yang terbaik dari ALLAH Swt untuk saya. Saya menyadari menikah bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bahagia mungkin benar, karena ia adalah anugrah istimewa. Tapi merasa bangga dan lebih baik dibanding orang lain, jelas tidak tepat. Apalagi dianggap segala-galanya.
Saya gemas mendengar seorang ummahat berujar kepada muslimah yang
usianya jauh lebih tua namun belum berkeluarga, ‘’Wah, kalau gitu saya dong yang harusnya dipanggil ‘Mbak’. Anak saya kan sudah tiga…'’ Saya saja tidak nyaman dengan ucapannya, apalagi yang bersangkutan? Saya tidak tahu, apakah ia sudah kehilangan kepekaan? Atau, memang begitu sifat manusia yang kerap di ‘uji’ dengan berbagai kemudahan dari Allah? Seandainya tidak terlambat menemukan ungkapan indah dalam surat Al-Kahfi ayat 46 : ‘’Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia
tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.'’ Tentu saat itu saya akan menyadarkannya untuk bersikap lebih dewasa.
Manusia boleh berharap banyak tapi tidak selalu bisa memilih. Seandainya bisa pasti ia akan memilih yang ‘enak-enak’ berdasarkan nafsunya. Inilah bagian dari mengimani takdir. Dalam masalah jodoh, perspektif iman harus senantiasa dikedepankan. Banyaknya muslimah yang belum menikah pada usia matang harus disikapi secara arif. Selain harus dicari solusinya, baik musl maupun muslimah sebaiknya melakukan pembekalan diri. Semuanya tergantung kepadanya, apakah ia akan memandang sebagai ujian ataukah kelemahan? Jika ujian, maka mencari hikmah sebanyak-banyaknya akan lebih berkesan dan membahagiakan daripada mencemaskannya. Jika dianggap kelemahan, tidak akan ada yang didapat selain perasaan tertekan.
Sudah selayaknya pula seorang muslim memandang makna pernikahan dari
berbagai sisi. Saya mendengar sekarang ini banyak mahasiswi muslimah
tingkat pertama yang minta dicarikan pasangan oleh ‘pembina’nya ( Baca Murobbyahnya), karena saking seringnya ia mendengar keindahan pernikahan digelar lewat berbagai seminar di kampus.
Bukan melarang untuk memikirkan dunia pernikahan pada usia relatif muda, tetapi yang jadi masalah adalah ketika harapan itu tidak segera terwujud. Kondisi ini jika tidak diimbangi kematangan jiwa dapat melemahkan semangat beraktivitas dan beribadah.
Agaknya, lebih positif jika muslimah membekali diri dengan cara menggali potensi diri dan prestasi, agar ia memiliki kematangan berpikir dan bisa menghargai diri sendiri, daripada hanya membayangkan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu kapan dapat terwujud.
Menikah adalah sunah Rasul dan ibadah, ia pun merupakan ladang jihad
setiap hamba ALLAH yang beriman. Saya yakin prestasi dan kualitas seorang muslim sebelum menikah berbanding lurus dengan kualitasnya sesudah menikah. Artinya, kualitas seseorang setelah berumah tangga baik secara ruhiyah, fikriyah maupun amaliah sangat dipengaruhi bagaimana sosoknya sebelum menikah.
Fenomena futur setelah menikah sering terjadi, karena kurangnya pemahaman dan wawasan tentang pernikahan sejak masih lajang. Karena pernikahan dianggap presatsi tertinggi yang bisa diraih.
Jika Allah memang belum mengabulkan apa yang kita harapkan, hiburlah
diri dengan prasangka tinggi bahwa semakin Allah menunda insya Allah
semakin baik kualitas yang akan Allah berikan suatu saat nanti karena Allah
tidak akan pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya. Bagi yang sudah
berkeluarga, selayaknya mensyukuri pernikahan dengan mengemban amanah sebaik-baiknya. Kalaupun belum mampu memberikan solusi, menjaga perasaan dan memiliki kepekaan kepada sesama adalah hal terbaik dalam ikatan ukhuwah kita.
Allahu Akbar!!!
Terus berjuang sahabat-sahabatku