coretankuNovember 24, 2005 5:10 am

aku Billy, yang nemenin ibunya mbak Tika tiap hari he2. Abis ditinggal terus sama dia, ditinggal kuliah & kerja di Denpasar. Mb Esta juga sekolah jauh2..jadinya harus ngekos hiks2.. :( ( Padahal dirumah cuma Ibu dan Bapak aja..

untung masih ada aku ya ^-^ :) )

jadi masih bisa meramaikan suasana..

Kadang jika Bapak lagi marah, billy liatin bapak trus ngelus” kakinya.. ga jadi deh marahnya.
Kalau ibu belanja ikan buat maemnya aku pasti aku anterin deh.. hihihi.. *karna billy sayang ibu

Lihat nih.. aku tidur nyenyak di kasur gambar pokemon, pakai bantal pula..:D nih yang foto aku kayaknya mbak tika deh.. pas lagi bobok nemenin dd bear dia sengaja foto aku, katanya buat oleh2 pulang dari rumah.

coretankuNovember 22, 2005 4:28 am

aku : kamu kan masih 22 taun ? knp bingung dg nikah? ingat loh.. “menikah bukan unjuk prestasi” :D

teman : kata aa gym usia bukan halangan

aku : semua diambil hikmahnya aja, kita dikasih waktu lama mungkin karna Allah lebih sayang ama kita supaya kita dapet jodoh yg tepat–> itu sih untuk cewek.

teman : dan kita menikah itu untuk ibadah

aku : iya.. apalagi untuk akhwat.. menikah merupakan jihad

teman : knp km ga segera raih jihad itu?

aku : ada suatu alasan.. :)

teman : lho…kok bisa ?

teman : slama ada kesempatan kita coba usahakan

teman : mungkin masih ada pertimabangan lain bagi km

teman : sehingga km ga raih jihad itu

aku : iya.. kamu teknisi kan ? gimana pekerjaan mu sehari2?sering keluar kota nggak ? kira2 nanti istrimu ditinggalin terus kan?

teman : insya Alloh, wlopun pekerjaan mengharuskan aku spt itu, asalkan ada saling percaya knp harus ditakuti, seandainya km punya suami dan suamimu itu slalu ada di rumah…. apakah km yakin menilai dia itu lebih baik dng yg sering ke luar kota, walohu alam
memang LA itu dari segi waktu agak2 gimana gitu…
wajarlah seorang istri slalu mengharapkan sang suami slalu ada di rumah
tp klo ada pekerjaan yg mengharuskan dia ke luar kota….ya sang istri mesti mendukung

teman : menurut perasaan kecil mu km milih karir ato nikah ?

aku : awalnya milih “nikah” tapi… sptnya aku harus bersabar dg pilihanku itu.. , berhubung kuliahku lulus taun depan.. ya balik ke arah karir.. sapa tau dapet yg lebih baik

teman : pertimbangan mu ?

aku : :)


Kenapa mayoritas muslim/muslimah pengen cepet nikah ?, nikah merupakan ladang ibadah, tapi jika suatu alasan hal itu kan masih bisa ditunda. Ibadah bukan hanya nikah kan? Kita bisa lebih meningkatkan diberbagai hal.
Tahun 2005 banyak yg bilang is wedding year. But not for me guys! Kuliah tinggal sebentar lagi, masih ada orang yang membutuhkan cucuran dana dari gadis kecil spt saya, kalau saya pilih jalan itu dg suami yg belum matank (*emank masakan) lebih baik harus bersabar.. :) menunggu saat itu tiba.. Allah akan memberi yang terbaik bagi hamba-Nya yang bersabar, bersyukur dan berusaha.

coretankuNovember 21, 2005 7:06 am

nice article from ely :)

Oleh : Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhani

Seorang temen dengan berkaca-kaca bercerita kepada saya bahwa ia ingin segera menikah. Sudah 3 kali propsal ta’arufnya di tolak akhwat. Masalah itu begitu berat membebani pikirannya bahkan mempengaruhi ibadahnya. Ia menjadi tidak tenang, shalat tidak khusyu’, juga sulit tidur. Kondisi fisiknya tentu jadi ikut terpengaruh.

Saya sedih mendengar curhatnya. Saya juga mencoba memahami perasaannya. Tapi wajarkah jika hal ini mengacaukan segalanya?

Ketika kuliah saya berdoa kepada ALLAH agar bisa menikah, namun keinginan menikah itu sudah muncul sejak usia saya 21 tahun ketika masa-masa ghirah dakwah begitu dahsaytnya melihat ustadz-uatdaz muda menggnadeng istri dan menggoedong anak yang subhannallah sungguh indah di pandang mata. Tapi di usai 21 tahun itu ibu saya tidak mengizinkan menikah karena saya masih kuliah . Alhamdulillah Allah swt memberikan jodoh saat usia saya 25 tahun sebagaimana doa saya dulu. Walau keinginan menikah pada usia 21 tahun itu di tahan selama 4 tahun sampai usia saya 25 tahun, masa penantian itu nyatanya tidaklah dapat dikatakan sebentar, sebagaimana pepatah melayu menyebutnya “ Tunggu-Tunggu Sungai Tidak Berhulu”, begitu perihnya penantian itu tetapi untuk menguji kesabaran jika tanpa ketegaran, rasa percaya diri, bebas dari prasangka dan perasaan tertekan. Satu hal yang membuat saya selalu merasa bersyukur saat itu adalah, Allah menolong saya tetap memiliki obsesi dan berkarya.

Seiring waktu, saya makin meyakini Allah bisa menjodohkan hamba-Nya
kapan saja. Tapi, seringkali Dia mempunyai rencana lain yang mesti kita
ambil hikmahnya sebanyak-banyaknya.seperti saya mempunyai keinginan menikah dengan gadis ( Akhwat tentunya ) di tanah kelahiran saya, namun ternyata rencana ALLAH berbeda saya di jodohkan dengan gadis sunda bandung dan inilah yang terbaik dari ALLAH Swt untuk saya. Saya menyadari menikah bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bahagia mungkin benar, karena ia adalah anugrah istimewa. Tapi merasa bangga dan lebih baik dibanding orang lain, jelas tidak tepat. Apalagi dianggap segala-galanya.

Saya gemas mendengar seorang ummahat berujar kepada muslimah yang
usianya jauh lebih tua namun belum berkeluarga, ‘’Wah, kalau gitu saya dong yang harusnya dipanggil ‘Mbak’. Anak saya kan sudah tiga…'’ Saya saja tidak nyaman dengan ucapannya, apalagi yang bersangkutan? Saya tidak tahu, apakah ia sudah kehilangan kepekaan? Atau, memang begitu sifat manusia yang kerap di ‘uji’ dengan berbagai kemudahan dari Allah? Seandainya tidak terlambat menemukan ungkapan indah dalam surat Al-Kahfi ayat 46 : ‘’Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia
tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.'’ Tentu saat itu saya akan menyadarkannya untuk bersikap lebih dewasa.

Manusia boleh berharap banyak tapi tidak selalu bisa memilih. Seandainya bisa pasti ia akan memilih yang ‘enak-enak’ berdasarkan nafsunya. Inilah bagian dari mengimani takdir. Dalam masalah jodoh, perspektif iman harus senantiasa dikedepankan. Banyaknya muslimah yang belum menikah pada usia matang harus disikapi secara arif. Selain harus dicari solusinya, baik musl maupun muslimah sebaiknya melakukan pembekalan diri. Semuanya tergantung kepadanya, apakah ia akan memandang sebagai ujian ataukah kelemahan? Jika ujian, maka mencari hikmah sebanyak-banyaknya akan lebih berkesan dan membahagiakan daripada mencemaskannya. Jika dianggap kelemahan, tidak akan ada yang didapat selain perasaan tertekan.

Sudah selayaknya pula seorang muslim memandang makna pernikahan dari
berbagai sisi. Saya mendengar sekarang ini banyak mahasiswi muslimah
tingkat pertama yang minta dicarikan pasangan oleh ‘pembina’nya ( Baca Murobbyahnya), karena saking seringnya ia mendengar keindahan pernikahan digelar lewat berbagai seminar di kampus.

Bukan melarang untuk memikirkan dunia pernikahan pada usia relatif muda, tetapi yang jadi masalah adalah ketika harapan itu tidak segera terwujud. Kondisi ini jika tidak diimbangi kematangan jiwa dapat melemahkan semangat beraktivitas dan beribadah.

Agaknya, lebih positif jika muslimah membekali diri dengan cara menggali potensi diri dan prestasi, agar ia memiliki kematangan berpikir dan bisa menghargai diri sendiri, daripada hanya membayangkan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu kapan dapat terwujud.

Menikah adalah sunah Rasul dan ibadah, ia pun merupakan ladang jihad
setiap hamba ALLAH yang beriman. Saya yakin prestasi dan kualitas seorang muslim sebelum menikah berbanding lurus dengan kualitasnya sesudah menikah. Artinya, kualitas seseorang setelah berumah tangga baik secara ruhiyah, fikriyah maupun amaliah sangat dipengaruhi bagaimana sosoknya sebelum menikah.

Fenomena futur setelah menikah sering terjadi, karena kurangnya pemahaman dan wawasan tentang pernikahan sejak masih lajang. Karena pernikahan dianggap presatsi tertinggi yang bisa diraih.

Jika Allah memang belum mengabulkan apa yang kita harapkan, hiburlah
diri dengan prasangka tinggi bahwa semakin Allah menunda insya Allah
semakin baik kualitas yang akan Allah berikan suatu saat nanti karena Allah
tidak akan pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya. Bagi yang sudah
berkeluarga, selayaknya mensyukuri pernikahan dengan mengemban amanah sebaik-baiknya. Kalaupun belum mampu memberikan solusi, menjaga perasaan dan memiliki kepekaan kepada sesama adalah hal terbaik dalam ikatan ukhuwah kita.

Allahu Akbar!!!
Terus berjuang sahabat-sahabatku

coretanku 5:41 am

“Selamat tinggal, kau pergi tanpa pamit” Itulah yang pantas aku ucapkan untukmu blogsky ku. He2.. tanpa warning dulu kamu sudah mendelete semua data ku, yah..maklumlah itu semua gratisan. Beberapa postingan mengenai resep masakan ku menghilang :( ( hiks2..

But, i luv u “blogsome” yg memberi tempat untuk user ticasss disini, karna di blogspot user ticasss nya sudah tidak bisa digunakan lagi.